Psikologi Persuasi dalam Organisasi Mahasiswa

Manusia selalu membutuhkan orang lain. Bahkan untuk jenis pekerjaan yang bersifat individu pun juga tetap membutuhkan orang lain. Sebut saja tukang cukur, pasti membutuhkan orang lain untuk mencukur rambut miliknya sendiri. Apalagi, kegiatan atau pekerjaan yang membutuhkan banyak orang untuk menyelesaikannya, salah satunya kegiatan di organisasi mahasiswa.

Di organisasi mahasiswa, ada banyak jenis kegiatan yang biasanya diselenggarakan, seperti menghadirkan kegiatan seminar, pentas seni, kompetisi olahraga dan keilmuan serta banyak lagi. Kegiatan-kegiatan seperti itu akan terlihat mustahil tercapai jika diselenggarakan tanpa melibatkan banyak orang.

Pimpinan event perlu upaya untuk mengajak dan mempengaruhi mahasiswa lainnya untuk membantu sebuah kegiatan agar terlaksana dengan baik dan lancar. Begitu pula pimpinan organisasi mahasiswa juga perlu upaya untuk mengajak anggota nya untuk bergerak mengadakan kajian atas isu tertentu dan mengajak untuk bergerak melaksanakan aksi.

Sebagai seorang mahasiswa yang pernah menghadapi kegiatan-kegiatan seperti itu, saya merasa bahwa untuk mencapai suatu tujuan kegiatan diperlukan suatu upaya untuk mempengaruhi orang lain agar orang lain mau melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan dan tujuan apa yang hendak dicapai. Psikologi persuasi itu sendiri diartikan sebagai strategi dalam mempengaruhi orang lain dengan cara yang baik dan benar.

Beberapa orang yang saya temui berupaya mengajak orang lain untuk berpartisipasi dalam mensukseskan sebuah kegiatan organisasi dengan cara mengiba, merengek, mengancam atau bahkan hingga mempermalukan orang lain. Bagi saya, hal tersebut bukanlah merupakan cara mempengaruhi orang lain dengan baik dan benar.

Lalu, hal-hal apa saja yang penting untuk diperhatikan dalam upaya melakukan persuasi dalam ranah organisasi mahasiswa agar mampu mencapai tujuan organisasi maupun tujuan kegiatan dengan baik.

Pertama, keteladanan. Pada dasarnya manusia adalah makhluk peniru. Saya masih ingat bagaimana dosen saya menjelaskan tentang sebuah penelitian eksperimen pada sekelompok anak yang dilakukan oleh seorang psikolog yang bernama Bandura.

Hasil penelitian yang dilakukan Bandura memperoleh kesimpulan bahwa apabila anak sering melihat dan terpapar perilaku agresif, maka anak tersebut akan meniru dan cenderung berperilaku sesuai dengan apa yang ia lihat sebelumnya.

Dalam konteks kegiatan di organisasi, kita perlu menghadirkan tokoh yang patut untuk diteladani. Jika kita adalah seorang pimpinan organisasi atau ketua pelaksana suatu event, maka kita tidak harus repot-repot untuk mencari orang yang patut untuk diteladani.

Kita cukup menjadikan diri kita sebagai sosok yang patut diteladani. Jika kita sering telat dalam menghadiri rapat, maka anggota kita akan berpikir bahwa mereka juga boleh untuk terlambat. Selain itu, saya menyarankan untuk imbangi dengan memberikan pujian dan sesekali rutin serta menjaga keakraban satu sama lain.

Selanjutnya, mendengarkan ide. Dalam menjalani aktivitas di organisasi mahasiswa sejauh ini, saya merasa cukup banyak memberikan ide. Ide yang didengarkan dan kemudian dijalankan merupakan pemicu semangat bagi saya untuk kemudian memperoleh hasil yang maksimal. Individu akan mendukung ketika mereka merasa bahwa mereka ikut serta dalam menciptakan.

Jika kita adalah pimpinan organisasi atau ketua sebuah event, pancing dan biarkan seolah-olah ide tersebut datang dari anggota. Pada dasarnya, semangat kerja sama dan totalitas yang ditunjukkan oleh anggota adalah senjata utama dalam mencapai hasil akhir yang diinginkan dalam konteks kegiatan di organisasi.

Terakhir, komunikasikan dengan baik. Dalam mempengaruhi orang lain, dibutuhkan komunikasi yang bagus dengan uraian yang logis dan masuk akal. Ciptakan sebuah imajinasi agar teman kita mampu melakukan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kalimat-kalimat yang melibatkan emosi akan menggugah perasaan sehingga bantuan dan dukungan bisa datang kepada kita.